Langkah PMI yang sukses gelar kegiatan ini mendapatkan apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah dan tokoh masyarakat adat. Materi yang diberikan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi didominasi oleh praktik lapangan yang menyerupai kondisi nyata. Para peserta diajarkan bagaimana melakukan stabilisasi pasien di medan berat, teknik pemindahan korban menggunakan tandu darurat di area lereng, hingga prosedur komunikasi menggunakan perangkat satelit di zona tanpa sinyal seluler. Keterampilan teknis dalam pelatihan evakuasi ini menjadi bekal berharga bagi para relawan yang seringkali harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan sesama di tengah hutan belantara atau aliran sungai yang deras.
Selain aspek teknis, latihan ini juga menekankan pada pentingnya pendekatan berbasis budaya dalam manajemen bencana. Di Papua, penghormatan terhadap tanah ulayat dan kearifan lokal sangatlah tinggi. Oleh karena itu, prosedur evakuasi dirancang agar tetap selaras dengan norma-masyarakat setempat guna menghindari gesekan sosial saat kondisi darurat. Relawan diajarkan cara berkomunikasi yang efektif dengan tokoh adat agar proses mobilisasi massa ke titik aman dapat berjalan lancar dan mendapatkan dukungan penuh dari warga. Sinergi antara keahlian medis modern dengan pemahaman sosiokultural lokal menjadikan operasi kemanusiaan di Papua memiliki karakter yang unik dan humanis.
Tantangan mengenai darurat kesehatan juga menjadi bagian dari simulasi tahun ini. Mengingat cuaca yang seringkali ekstrem, tim relawan dilatih untuk mengantisipasi risiko hipotermia dan penyakit menular yang sering muncul pasca-bencana. Ketersediaan alat pelindung diri dan obat-obatan dasar dalam tas darurat setiap relawan dipastikan memenuhi standar internasional. Fakta di lapangan membuktikan bahwa keberhasilan evakuasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil dipindahkan, tetapi juga seberapa baik kondisi kesehatan mereka terjaga selama berada di titik pengungsian sementara.
Pemerintah Provinsi Papua terus memberikan dukungan melalui penyediaan infrastruktur pendukung, seperti helipad darurat dan gudang logistik regional. Kemitraan strategis ini memungkinkan PMI untuk memiliki daya jangkau yang lebih luas hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi. Dengan adanya pelatihan rutin, diharapkan terbentuk sebuah ekosistem penyelamatan yang solid dan terintegrasi. Masyarakat Papua kini mulai memiliki kesadaran kolektif untuk membangun sistem peringatan dini berbasis komunitas, di mana setiap warga tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus berlari saat tanda bahaya dibunyikan.