Musibah banjir dahsyat telah melanda tiga lokasi di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, meninggalkan jejak kehancuran yang pilu. Tiga Desa Tersapu oleh derasnya arus air, mengubah pemukiman yang tadinya ramai menjadi lautan lumpur dan puing. Ratusan rumah warga hancur lebur, menyisakan trauma mendalam bagi ribuan penduduk yang terdampak langsung.
Banjir bandang ini terjadi setelah hujan lebat tak henti-hentinya mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Sungai-sungai meluap dengan cepat, menerjang segala sesuatu yang ada di jalannya. Kecepatan air yang tinggi membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka, menyebabkan kerugian materi yang sangat besar. Kini, tiga Desa Tersapu oleh bencana.
Tim penyelamat gabungan, terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan, segera bergerak menuju lokasi bencana. Prioritas utama adalah evakuasi warga yang terjebak dan pencarian korban yang mungkin hanyut. Kondisi lapangan sangat sulit, dengan akses jalan yang terputus dan material longsor yang menumpuk. Upaya menembus area Desa Tersapu menjadi tantangan berat.
Kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan. Mereka kehilangan segalanya dan kini bergantung pada bantuan kemanusiaan. Posko-posko pengungsian darurat didirikan, namun kapasitasnya terbatas. Kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan sangat dibutuhkan oleh warga yang Desa Tersapu ini.
Pemerintah daerah bersama berbagai lembaga kemanusiaan terus berkoordinasi untuk menyalurkan bantuan. Namun, kendala akses dan luasnya area terdampak menjadi hambatan. Solidaritas dari seluruh lapisan masyarakat diharapkan dapat meringankan beban para korban. Setiap bantuan, sekecil apa pun, sangat berarti.
Data sementara menunjukkan bahwa ribuan jiwa kini berada di pengungsian. Selain kerugian fisik, dampak psikologis juga menjadi perhatian serius. Tim psikososial diterjunkan untuk memberikan pendampingan, khususnya kepada anak-anak, yang mengalami trauma akibat melihat rumah mereka Desa Tersapu oleh air bah.
Pasca-bencana, tantangan besar menanti Parigi Moutong. Proses rekonstruksi dan rehabilitasi akan memakan waktu yang panjang dan sumber daya yang besar. Pembelajaran dari bencana ini harus menjadi acuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko di masa depan, agar kejadian serupa tidak terulang.