Setelah bencana, ancaman sekunder seringkali lebih mematikan daripada bencana itu sendiri. Salah satu ancaman terbesar adalah krisis air bersih dan sanitasi yang buruk, yang dapat memicu wabah penyakit menular seperti kolera dan disentri. Palang Merah Indonesia (PMI) mengatasi masalah krusial ini melalui Penerapan Teknologi Water Sanitation and Hygiene (WASH) yang teruji di setiap lokasi pengungsian. Penerapan Teknologi WASH ini mencakup serangkaian alat dan prosedur, mulai dari unit filtrasi air portabel berkapasitas besar hingga pembangunan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) darurat yang higienis. Keberhasilan PMI dalam Penerapan Teknologi ini sangat menentukan kualitas kesehatan dan martabat para penyintas di masa-masa sulit.
Unit Filtrasi Cepat: Solusi Air Minum Instan
Kunci dari respons WASH PMI adalah kecepatan dalam menyediakan air minum yang aman. Untuk mencapai tujuan ini, PMI menggunakan unit pengolahan air bergerak yang dikenal sebagai Water Treatment Unit (WTU) atau Mobile Water Treatment. Unit ini memiliki kemampuan luar biasa untuk mengolah air baku dari sumber yang terkontaminasi (sungai, sumur dangkal, atau air hujan) menjadi air siap minum yang memenuhi standar kesehatan.
Penerapan Teknologi WTU ini menggunakan kombinasi proses filtrasi (penyaringan), koagulasi, dan desinfeksi (klorinasi).
- Kapasitas: Unit WTU standar PMI mampu memproses air hingga 10.000 liter per jam, cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar air minum (sekitar 3 liter/orang/hari) bagi populasi pengungsian yang besar.
- Waktu Respon: PMI menargetkan unit WTU ini harus sudah aktif dan memproduksi air bersih dalam waktu 48 jam setelah bencana tiba di pengungsian utama.
Saat bencana Tsunami di Aceh pada 2004, misalnya, Tim Spesialis WASH PMI yang berkolaborasi dengan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) berhasil membangun dan mengoperasikan puluhan unit filtrasi, memastikan pasokan air bersih bagi ribuan pengungsi di sekitar Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.
Sanitasi dan Higiene: Mencegah Wabah
Aspek sanitasi dan higiene (S/H) sama pentingnya dengan penyediaan air bersih. Lingkungan pengungsian yang padat sangat rentan terhadap penyebaran penyakit melalui sanitasi yang buruk. PMI menerapkan standar minimal:
- MCK Darurat: PMI membangun fasilitas toilet dan MCK darurat, memastikan rasio toilet yang memadai (standar darurat adalah 1 toilet untuk setiap 20 orang). Penempatan toilet dan fasilitas cuci tangan harus berjarak minimal 30 meter dari sumber air bersih untuk menghindari kontaminasi.
- Edukasi Higiene: Relawan PMI, terutama dari bidang kesehatan masyarakat, secara rutin memberikan edukasi tentang praktik higiene, seperti mencuci tangan dengan sabun pada momen-momen kritis (setelah menggunakan toilet dan sebelum makan). Program Edukasi WASH ini diaktifkan setiap hari di pengungsian di Kota Palu pasca-gempa 2018.
Kepala Bidang Kesehatan Lingkungan PMI Pusat, Dr. Setiawan, menekankan bahwa pendekatan WASH adalah pencegahan terbaik. Dengan Penerapan Teknologi WTU dan fokus ketat pada sanitasi, PMI tidak hanya meredakan penderitaan fisik tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat secara luas di tengah kondisi darurat.