Dampak konflik tidak hanya menyisakan kerusakan fisik dan material, tetapi juga luka mendalam pada jiwa para penyintas. Dalam upaya memulihkan kondisi mental dan emosional mereka, Palang Merah Indonesia (PMI) hadir dengan program bantuan psiko-sosial yang komprehensif, bertujuan untuk PMI membangun kembali harapan dan kekuatan di antara mereka yang terdampak. Program ini krusial dalam mendukung pemulihan jangka panjang pasca-konflik.
Kekerasan dan kehilangan yang dialami selama konflik seringkali menyebabkan trauma, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) pada para korban. PMI menyadari bahwa bantuan materiil saja tidak cukup; dukungan mental dan emosional adalah kunci untuk memulihkan martabat dan memungkinkan penyintas kembali berdaya. Sejak awal 2025, PMI telah meningkatkan fokus pada program psiko-sosial di wilayah-wilayah rawan konflik, bekerja sama dengan psikolog, konselor, dan pekerja sosial terlatih.
Salah satu inisiatif kunci dalam upaya PMI membangun kembali adalah pembentukan pusat-pusat dukungan psiko-sosial di pengungsian atau komunitas yang terdampak. Di pusat-pusat ini, relawan PMI menyelenggarakan berbagai aktivitas, mulai dari sesi konseling individu dan kelompok, terapi seni, hingga permainan interaktif untuk anak-anak. Contohnya, di sebuah pusat komunitas yang didirikan PMI di Aceh pada Maret 2025, tercatat lebih dari 200 anak-anak telah mengikuti sesi bermain dan bercerita yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan emosi secara sehat.
Direktur Pelayanan Sosial PMI, Ibu Indah Permata Sari (48), dalam sebuah lokakarya di Jakarta pada 10 Mei 2025, menjelaskan pentingnya pendekatan holistik. “Kami tidak hanya mengobati luka fisik, tetapi juga luka tak terlihat di hati dan pikiran. PMI membangun kembali mental penyintas agar mereka bisa bangkit dan kembali berinteraksi dengan masyarakat,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pelibatan keluarga dan komunitas dalam proses pemulihan.
Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan bagi masyarakat lokal tentang cara mengenali tanda-tanda trauma dan memberikan dukungan awal kepada sesama penyintas. PMI percaya bahwa pemulihan sejati berasal dari kekuatan komunitas itu sendiri. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur dan pemerintah, PMI terus berupaya memperluas jangkauan program psiko-sosialnya, menegaskan komitmen mereka untuk tidak hanya menyediakan pertolongan darurat, tetapi juga PMI membangun kembali kehidupan yang lebih baik bagi para penyintas konflik.