Dalam setiap respons bencana, perhatian seringkali terfokus pada korban. Namun, ada satu kelompok yang juga rentan terhadap trauma pasca-bencana, yaitu para relawan. Mereka berhadapan langsung dengan penderitaan dan kehancuran, yang dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, pelatihan psikososial menjadi komponen yang sangat vital dalam mempersiapkan relawan. Pelatihan ini tidak hanya membantu mereka untuk memberikan dukungan kepada korban, tetapi juga membekali mereka dengan mekanisme coping yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri.
Salah satu tujuan utama dari pelatihan psikososial adalah untuk membekali relawan dengan kemampuan untuk mengenali tanda-tanda trauma pada korban, seperti kecemasan, ketakutan, atau kepanikan. Dengan pemahaman ini, relawan dapat memberikan respons yang lebih empatik dan efektif. Misalnya, di sebuah kamp pengungsian pasca-gempa di suatu daerah di Jawa Tengah, pada 15 November 2025, seorang relawan dari PMI, bernama Santi, menggunakan teknik pernapasan yang ia pelajari dari pelatihan psikososial untuk menenangkan seorang anak yang mengalami serangan panik. Tindakannya menunjukkan bahwa pengetahuan yang ia miliki sangat membantu dalam situasi darurat.
Selain itu, pelatihan psikososial juga mengajarkan para relawan cara mengelola stres dan kelelahan mental yang mereka rasakan. Berinteraksi dengan penderitaan orang lain setiap hari dapat menyebabkan kelelahan emosional atau bahkan trauma sekunder. Pelatihan ini mengajarkan relawan untuk mengenali gejala burnout, seperti kelelahan kronis atau kehilangan motivasi, dan memberikan strategi untuk mengatasinya. Dalam laporan dari sebuah studi oleh Asosiasi Psikolog Bencana pada 20 November 2025, relawan yang telah mengikuti pelatihan psikososial memiliki tingkat burnout 30% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Ini membuktikan bahwa pelatihan ini sangat penting untuk keberlanjutan tugas relawan.
Pelatihan ini juga melibatkan simulasi dan role-playing untuk mempersiapkan relawan menghadapi berbagai skenario sulit. Dalam sebuah simulasi yang diadakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada 25 November 2025, relawan dilatih untuk berinteraksi dengan korban yang marah atau putus asa. Latihan ini membantu mereka mengembangkan kesabaran dan empati, keterampilan yang sangat diperlukan di lapangan. Bapak Budi, seorang petugas kepolisian yang juga terlibat dalam simulasi, menyatakan bahwa “Pelatihan ini memberikan kami pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinteraksi dengan korban bencana, tidak hanya dari sisi keamanan tetapi juga dari sisi kemanusiaan.”
Pada akhirnya, pelatihan psikososial adalah investasi yang krusial bagi setiap relawan bencana. Ini adalah bekal yang tidak hanya memungkinkan mereka untuk memberikan bantuan yang lebih efektif, tetapi juga melindungi kesehatan mental mereka sendiri. Dengan memiliki relawan yang sehat secara mental dan emosional, respons bencana akan menjadi lebih kuat, lebih efektif, dan lebih manusiawi.