PMI dan Misi Air Bersih di Lokasi Bencana

Akses terhadap air bersih dan sanitasi adalah kebutuhan dasar yang menjadi sangat genting ketika bencana melanda. Infrastruktur air seringkali rusak, tercemar, atau tidak berfungsi, yang berisiko memicu wabah penyakit menular di antara para penyintas. Dalam menghadapi tantangan kritis ini, Palang Merah Indonesia (PMI) mengoperasikan unit khusus dengan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan sanitasi dan air. Artikel ini akan menyoroti PMI dan Misi Air Bersih di Lokasi Bencana, menjelaskan bagaimana organisasi kemanusiaan ini memastikan ketersediaan sumber daya vital ini di area-area yang paling terdampak. Misi ini adalah kunci untuk mencegah krisis kesehatan sekunder yang dapat memperburuk kondisi penyintas.

PMI dan Misi Air Bersih di Lokasi Bencana dilaksanakan melalui serangkaian tindakan terstruktur, yang seringkali dimulai dalam hitungan jam setelah tim tanggap darurat utama tiba. PMI mengerahkan unit Water and Sanitation (WASH) yang dilengkapi dengan peralatan canggih seperti instalasi pengolahan air bergerak (mobile water treatment unit) dan tandon air lipat (water bladder). Instalasi bergerak ini mampu mengambil air dari sumber alami (sungai atau sumur) dan memprosesnya menjadi air yang layak konsumsi sesuai standar kesehatan. Contoh keberhasilan misi ini terlihat saat penanganan dampak erupsi Gunung Agung di Bali pada akhir 2017, di mana PMI berhasil memasok rata-rata 50.000 liter air bersih per hari kepada pengungsi yang berada di penampungan di Kabupaten Karangasem.

Operasional air bersih PMI sangat membutuhkan koordinasi logistik dan pengamanan. Pendistribusian air bersih dari unit pengolahan ke titik-titik pengungsian seringkali memerlukan truk tangki khusus. Di wilayah yang sulit dijangkau atau rawan konflik, Koordinator Lapangan WASH PMI, Bapak I Wayan Kertiyasa, berkoordinasi dengan petugas TNI dan Kepolisian Sektor setempat setiap pukul 10:00 WITA untuk memastikan keamanan jalur distribusi. Pada kasus penanganan krisis air pasca-gempa di Lombok Timur, NTB, pada Agustus 2018, PMI bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk membangun atau memperbaiki fasilitas sanitasi sementara di 40 titik pengungsian utama.

Selain menyediakan air minum, unit WASH PMI juga fokus pada promosi sanitasi dan kebersihan (Hygiene Promotion). Relawan memberikan edukasi kepada penyintas tentang pentingnya mencuci tangan, pembuangan limbah yang benar, dan penggunaan kloset yang layak untuk mencegah penyebaran penyakit seperti diare dan kolera. Menurut laporan program PMI pada tahun 2023, pelatihan WASH yang dilakukan di daerah rawan banjir di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terbukti menurunkan kasus diare pada anak-anak di pengungsian hingga 25% dalam kurun waktu tiga bulan. Dengan demikian, PMI dan Misi Air Bersih di Lokasi Bencana tidak hanya menyediakan air, tetapi juga membangun kesadaran kesehatan masyarakat di masa krisis.