Papua memiliki bonus demografi berupa jumlah penduduk usia muda yang sangat besar, yang jika dikelola dengan tepat, akan menjadi motor penggerak kemajuan yang luar biasa bagi Bumi Cendrawasih. Menyadari potensi strategis ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Papua kini mengalihkan fokus utamanya pada program pemberdayaan pemuda. Inisiatif ini bukan sekadar mengajak mereka untuk menjadi sukarelawan saat bencana terjadi, melainkan untuk membentuk karakter mereka sebagai kader kemanusiaan yang memiliki visi jangka panjang, kepemimpinan yang kuat, dan kepedulian sosial yang tinggi. Pemuda Papua disiapkan untuk menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan di wilayah mereka sendiri.
Fokus pertama dari program ini adalah penguatan kapasitas kepemimpinan melalui Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Sukarela (KSR) di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Papua. Para pemuda diajarkan mengenai nilai-nilai dasar kepalangmerahan yang universal, namun tetap diselaraskan dengan semangat kecintaan terhadap tanah air dan budaya lokal. Mereka dilatih untuk menjadi pengambil keputusan di saat genting dan mampu mengorganisir massa dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dengan memberikan kepercayaan dan tanggung jawab sejak dini, PMI Papua ingin memastikan bahwa tongkat estafet kepemimpinan organisasi kemanusiaan ini akan jatuh ke tangan yang kompeten dan berintegritas tinggi di masa depan.
Selain kepemimpinan, pelatihan keterampilan teknis medis dasar dan manajemen bencana juga menjadi menu wajib. Papua memiliki tantangan geografis yang berat, sehingga dibutuhkan kader-kader yang tangguh secara fisik dan cerdas secara taktis. Para pemuda dilatih untuk melakukan pertolongan pertama, evakuasi di medan sulit, hingga pengelolaan sanitasi di pengungsian. Melalui pemberdayaan ini, setiap desa atau distrik di Papua diharapkan memiliki minimal satu kelompok pemuda siaga bencana yang mampu memberikan respons cepat sebelum bantuan dari pusat provinsi tiba. Kemandirian lokal inilah yang menjadi target utama agar tingkat risiko korban jiwa saat bencana dapat ditekan seminimal mungkin melalui aksi nyata para kadernya.
Aspek yang tidak kalah penting dalam pemberdayaan ini adalah pengembangan literasi digital dan komunikasi publik. Pemuda Papua adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi informasi. PMI memanfaatkan energi ini dengan melatih mereka menjadi komunikator kemanusiaan di media sosial. Mereka diajak untuk menyebarkan konten positif mengenai pola hidup sehat, pencegahan penyakit menular, dan pentingnya toleransi antar sesama.