Saat bencana alam melanda, detik-detik awal setelah kejadian adalah masa paling kritis. Di tengah puing-puing bangunan yang roboh dan kepanikan, tim relawan Palang Merah Indonesia (PMI) hadir sebagai pahlawan kemanusiaan. Pengalaman relawan PMI dalam melakukan evakuasi korban secara profesional menjadi kunci untuk meminimalisir korban jiwa. Mereka tidak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga keterampilan teknis yang telah dilatih secara intensif. Dengan peralatan standar dan prosedur yang ketat, para relawan bekerja dalam kondisi yang penuh risiko untuk menemukan dan menolong korban yang terjebak. Pengalaman relawan ini mencerminkan dedikasi dan profesionalisme yang luar biasa, mengubah situasi chaos menjadi sebuah operasi penyelamatan yang terorganisir.
Pada Jumat, 22 September 2025, sebuah tim Search and Rescue (SAR) dari PMI Cabang Cianjur, Jawa Barat, diterjunkan ke lokasi simulasi gempa di Desa Cijedil. Tim ini terdiri dari 15 relawan yang dipimpin oleh Sdr. Dani Kurniawan, seorang koordinator tim evakuasi dengan pengalaman lebih dari 12 tahun. “Kami melatih skenario evakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan. Kuncinya adalah kolaborasi dan komunikasi yang efektif antaranggota tim,” ujar Dani. Pengalaman relawan dalam skenario ini menunjukkan bahwa setiap langkah harus terukur, mulai dari memastikan kestabilan reruntuhan hingga memberikan pertolongan pertama pada korban yang berhasil dievakuasi. Tim SAR PMI juga dilengkapi dengan peralatan canggih seperti Life Detector untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan di bawah tumpukan material.
Dalam setiap operasi riil, pengalaman relawan PMI sangat membantu mereka untuk tetap tenang dan fokus. Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari medan yang sulit dijangkau, cuaca ekstrem, hingga kondisi psikologis korban yang trauma. Namun, melalui pelatihan rutin, mereka terbiasa bekerja di bawah tekanan tinggi. Selain keterampilan teknis, para relawan juga dibekali dengan pengetahuan medis dasar untuk memberikan pertolongan pertama. Mereka tahu cara menstabilkan kondisi korban, menghentikan pendarahan, dan melakukan resusitasi jantung paru (RJP) jika diperlukan, sebelum korban dapat dibawa ke posko medis atau rumah sakit terdekat. Keahlian ini adalah bekal penting yang membedakan relawan PMI.
Kolaborasi dengan instansi lain juga menjadi bagian tak terpisahkan dari operasi evakuasi. PMI selalu berkoordinasi dengan Badan SAR Nasional (Basarnas), Kepolisian, dan TNI untuk memastikan setiap langkah penyelamatan berjalan efektif dan aman. Pada saat simulasi di Cianjur, tim evakuasi bekerja sama dengan petugas kepolisian setempat untuk memastikan keamanan area dan kelancaran jalur evakuasi. Kerja sama ini menjadi bukti bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab kolektif. Pengalaman relawan PMI dalam menghadapi situasi yang paling buruk ini tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan, gotong royong, dan kesabaran. Setiap nyawa yang berhasil diselamatkan adalah bukti nyata dari dedikasi mereka yang tanpa pamrih.